Skip to main content

Ketika Buku dan Pena Menjadi Barang Mewah

Sebuah Catatan Kecil untuk Negeri yang Terlalu Sibuk Mengurus Anggaran

Di sebuah ruang sempit yang nyaris tak layak disebut rumah, seorang anak sekolah dasar duduk dengan kepala tertunduk. Tangannya kecil, jemarinya gemetar memegang kertas—bukan rapor, bukan piagam, melainkan sepucuk pesan perpisahan.

Ia bukan anak malas. Ia bukan pembangkang. Ia bukan tanpa mimpi.

Ia hanya seorang anak yang tak mampu membeli buku dan pena.

Insiden tragis ini—seorang anak SD yang memilih mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi dalam pendidikan—adalah jeritan sunyi dari sistem yang gagal melindungi yang paling lemah. Ini bukan sekadar kisah sedih. Ini adalah cermin buram wajah pendidikan kita.


Ketika Pendidikan Menjadi Beban Psikologis

Seorang anak seharusnya memikirkan cita-cita, bukan harga buku.
Seharusnya menghafal pelajaran, bukan menghitung beban orang tuanya.

Kalimat sederhana dalam foto itu—“Mama aku pergi dulu, tolong relakan saya”—adalah kalimat yang tak seharusnya pernah ditulis oleh anak seusia itu. Kalimat itu lahir dari rasa bersalah, rasa tak berguna, dan tekanan sosial yang perlahan mematikan harapan.

Ini bukan kegagalan seorang ibu. Bukan pula kegagalan seorang anak.

Ini adalah kegagalan negara dalam memastikan bahwa pendidikan benar-benar dapat diakses oleh semua.


Pendidikan Tidak Dimulai dari Piring Makan

Pemerintah hari ini gencar menggulirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah. Niatnya mungkin baik. Namun kita perlu jujur dan berani bertanya:

Apakah anak bisa belajar dengan layak jika buku dan pena saja tak mampu ia miliki?

Pendidikan tidak dimulai dari makanan di sekolah, melainkan dari akses dasar terhadap proses belajar. Buku, alat tulis, dan rasa aman adalah fondasi utama.

Makan gratis tidak akan menghapus rasa minder seorang anak yang tak punya buku.
Gizi cukup tidak serta-merta menghilangkan tekanan batin karena kemiskinan struktural.

Bagi banyak keluarga miskin, sekolah “gratis” hanyalah slogan. Di baliknya tetap ada:

  • biaya buku dan LKS

  • alat tulis

  • seragam

  • iuran tidak resmi

  • dan rasa malu yang tak tercatat di laporan anggaran


Sekolah Gratis yang Seutuhnya, Bukan Setengah Hati

Daripada menghabiskan triliunan rupiah untuk program yang dampaknya belum menyentuh akar masalah, sudah saatnya pemerintah mengubah fokus.

Bukan sekadar makan gratis,
melainkan sekolah gratis yang benar-benar gratis.

Negara seharusnya hadir dengan:

  • Penyediaan buku pelajaran gratis untuk semua siswa

  • Alat tulis dasar sebagai hak, bukan bantuan

  • Penghapusan biaya-biaya tersembunyi di sekolah

  • Pengawasan ketat agar bantuan tepat sasaran

Karena buku dan pena bukan fasilitas tambahan.
Mereka adalah hak dasar anak dalam pendidikan.


Mendengar Suara yang Tak Punya Mikrofon

Tulisan ini bukan untuk menjatuhkan pemerintah.
Ini adalah ajakan untuk berpikir lebih jernih dan lebih manusiawi.

Negara yang besar bukan diukur dari banyaknya program, melainkan dari seberapa kecil jumlah anak yang putus harapan.

Jika seorang anak sampai merasa kematian adalah jalan keluar dari kemiskinan pendidikan, maka yang gagal bukan keluarganya—
yang gagal adalah sistemnya.

Sudah waktunya pemerintah Indonesia:

  • Mengutamakan kesejahteraan rakyat, bukan pencitraan

  • Menyusun kebijakan dari realitas, bukan meja rapat

  • Mendengar suara anak-anak yang tak pernah diundang ke forum

Karena pendidikan seharusnya menyelamatkan masa depan,
bukan menjadi alasan seseorang mengakhiri hidupnya terlalu dini.


Tulisan ini didedikasikan untuk anak-anak Indonesia yang bermimpi, tetapi terhalang oleh keadaan. Semoga tak ada lagi buku dan pena yang terasa semahal harapan.

Popular posts from this blog

DESTINASI WISATA PANTAI FAEFNAFU

Pantai Faefnafu, merupakan salah satu pantai terindah yang terletak di Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur-Indonesia, merupakan sebuah destinasi tersembunyi yang menyimpan begitu banyak keindahan alam yang masih alami. Dari keunikan pantai ini, terletak pada bebatuan kecil yang tersusun rapi dan menguasai bibir pantai sehingga memperindah tepi pantainya, dan disini dapat memberikan anda pengalaman yang unik bagi para pengunjung yang hendak mencari petualangan baru. Oh...iya... Meskipun keindahannya yang tak terbantahkan, namun Pantai Faefnafu ini belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah daerah, sehingga fasilitas di sekitar pantai masih minim sehingga Hal ini membuat pantai faefnafu ini belum banyak dikunjungi oleh banyak wisatawan. Akan tetapi, destinasi yang satu ini cocok bagi mereka yang menginginkan ketenangan dan keindahan alam yang asli. Keberadaan Pantai Faefnafu ini juga berbatasan langsung dengan Negara ...

Cinta yang Baik: Apa yang Membuatnya Istimewa?

Cinta adalah perasaan yang kompleks dan multifaset. Banyak orang mencari cinta yang baik, tetapi tidak semua orang tahu apa yang membuat cinta itu baik. Dalam tulisan ini, kita akan membahas tentang apa yang membuat cinta itu baik dan bagaimana kita dapat membangun hubungan yang sehat dan bahagia. *Apa itu Cinta yang Baik?* Cinta yang baik adalah perasaan yang tulus, mendalam, dan berkelanjutan. Ini adalah perasaan yang membuat kita merasa bahagia, aman, dan dihargai. Cinta yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang tindakan dan komitmen. *Karakteristik Cinta yang Baik* Berikut adalah beberapa karakteristik cinta yang baik: - * Tulus *: Cinta yang baik adalah tulus dan tidak memiliki motif yang tersembunyi. Orang yang mencintai dengan tulus tidak memiliki keinginan untuk memanipulasi atau mengontrol pasangannya. - * Menghargai *: Cinta yang baik menghargai dan menghormati pasangannya. Orang yang mencintai dengan baik tidak hanya memperhatikan kebutuhan pasangannya, te...

Fatu’knapa: Potensi Tersembunyi yang Menanti untuk Dihidupkan

     Foto: Pesona Alam Fatuknapa Jejak_Pena ----- Di balik sunyinya alam dan jauhnya hiruk-pikuk kota, terdapat sebuah tempat yang menyimpan keindahan alami yang jarang tersentuh: Fatu’knapa . Sebuah lokasi strategis di wilayah desa inbate yang menawarkan panorama batu alam yang unik, kokoh, dan memesona. Formasi bebatuan yang terbentang luas ini seakan menjadi saksi bisu perjalanan alam selama ratusan bahkan ribuan tahun. Fatu’knapa bukan sekadar hamparan batu. Ia adalah lanskap alam yang memiliki karakter kuat—tekstur batu yang alami, kontur yang tegas, serta paduan vegetasi liar yang tumbuh apa adanya. Dari titik ini, mata dimanjakan oleh bentang alam perbukitan yang menghadirkan rasa tenang, sejuk, dan jauh dari kebisingan kehidupan kota. Sebuah tempat yang tepat untuk berhenti sejenak, bernapas, dan kembali menyatu dengan alam. Namun sayangnya, hingga saat ini Fatu’knapa belum pernah benar-benar dipikirkan sebagai destinasi wisata lokal desa . Keindahanny...