Sebuah Catatan Kecil untuk Negeri yang Terlalu Sibuk Mengurus Anggaran Di sebuah ruang sempit yang nyaris tak layak disebut rumah, seorang anak sekolah dasar duduk dengan kepala tertunduk. Tangannya kecil, jemarinya gemetar memegang kertas—bukan rapor, bukan piagam, melainkan sepucuk pesan perpisahan. Ia bukan anak malas. Ia bukan pembangkang. Ia bukan tanpa mimpi. Ia hanya seorang anak yang tak mampu membeli buku dan pena . Insiden tragis ini—seorang anak SD yang memilih mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi dalam pendidikan—adalah jeritan sunyi dari sistem yang gagal melindungi yang paling lemah. Ini bukan sekadar kisah sedih. Ini adalah cermin buram wajah pendidikan kita . Ketika Pendidikan Menjadi Beban Psikologis Seorang anak seharusnya memikirkan cita-cita, bukan harga buku. Seharusnya menghafal pelajaran, bukan menghitung beban orang tuanya. Kalimat sederhana dalam foto itu— “Mama aku pergi dulu, tolong relakan saya” —adalah kalimat yang tak seharusnya pernah di...